home
my seiman
bulletin
web forum
discover
bible info
ss cq
renungan
milis
online bible
uji anda
proyek
linkaran advent
album foto
about
staff only

active topics (0)
new articles (0)
private messages
my bookmarks
site statistics
pm pager
member benefits
members
search
register

Username:
Password:
Save Password

Lupa password?

registered members: 1626
active users:
0 members
7 guests
Renungan Hari Ini | Renungan Lampau | Para Penerjemah
Renungan Tanggal 5/11/2009

Salam dalam Kasih Kristus,

Hari ini beberapa teman yang baik hati mengantarkan saya ke dokter gigi. Saya mengatakan kepada mereka bahwa mereka tidak usah menunggu, bahwa saya akan berjalan kaki pulang.
Baiklah, mungkin apa yang disuntikkan oleh dokter gigi itu kepada saya adalah masalahnya, tetapi saya mendapati bahwa berjalan kaki pulang tampaknya jauh lebih lama dan melelahkan dari yang saya harapkan. Saya tidak bisa menggambarkan betapa bersyukurnya saya untuk akhirnya menjejakkan kaki di atas apa yang adalah "milik saya," sepetak tanah yang bisa saya sebut "rumah".
Kemudian saya berpikir tentang apa yang Yesus katakan di dalam Matius 8:20 bahwa "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya."

Setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan untuk pulang itu, saya begitu bersyukur untuk menemukan sepetak tanah yang bisa saya sebut "rumah" atau "milik saya" di mana saya bisa meletakkan kepala saya dan beristirahat sebentar. Dan pada saat yang sama saya memikirkan Tuhan kita, Pencipta kita, Penebus kita, yang sementara Dia bersama berada dengan kita di atas bumi ini tidak bisa menyebut satu meter persegi pun tanah sebagai "milik-Nya."
Akhirnya, "mereka" [yang berarti kita semua!] memberikan kepada-Nya sebuah pohon untuk menjadi milik-Nya -- sebuah salib.
Itulah satu-satunya yang pernah Dia miliki di atas bumi ini! Dia, Anak Allah, Pencipta kita, Penebus kita. Raja Sorga.

Dan di atas salib itu, pohon itu yang mereka berikan kepada-Nya, Anak Allah "menyerahkan nyawa-Nya kepada maut" (Yes 53:12). "Menyerahkan" ["mencurahkan", KJV] berarti seperti bila Anda mengosongkan sebuah botol, Anda membalikkannya untuk mengeluarkan tetes terakhir daripadanya. Yesus tidak menahan apapun di dalam mengorbankan diri-Nya, kematian yang Dia alami di atas pohon yang "kita" berikan kepada-Nya adalah kematian kita yang kedua; kita tidak bisa memikirkan kematian Yesus sebagai satu "tidur" selama satu akhir minggu (Dia bangkit kembali pada hari yang ketiga!); bila seorang dari kita telah menderita siksaan fisik karena disalibkan (Anda tidak mati pada hari yang pertama -- Anda mungkin bertahan sampai seminggu atau lebih) Anda akan bersyukur untuk tidur selama satu akhir minggu, hanya untuk jatuh pingsan.

Tetapi itu bukanlah yang Yesus alami; Dia memasuki neraka itu sendiri -- neraka yang kekal tanpa akhir; kenyataan bahwa Dia dibangkitkan pada hari yang ketiga tidak mengurangi besarnya komitmen-Nya. Sementara Dia tergantung di salib itu, Dia tidak bisa melihat melampaui gerbang kubur, kita diberi tahu oleh seseorang yang mengetahuinya. Hati kita terlalu mengkerut, terlalu kecil, terlalu terikat kepada dunia, untuk menghargai apa yang Yesus lakukan, dan apa arti komitmen-Nya bagi Diri-Nya sendiri.

Petrus mengatakan pada kita bahwa Bapa tidak mau meninggalkan jiwa-Nya dalam neraka: "Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan." (Kis 2:31).
O Bapa, berikan kepada kami "hati yang dilapangkan" (lihat Mazmur 119:32) untuk menghargai pengorbanan Juruselamat kami!

dari Dial Daily Bread 4 Mei 2009
oleh Robert J. Wieland
diterjemahkan oleh Danny Handoko


 

Set as your default homepage Add favorite Privacy Report Bugs 1998-2007 SEIMAN.org All Rights Reserved. MaxWebPortal Snitz Forums Go To Top Of Page