home
my seiman
bulletin
web forum
discover
bible info
ss cq
renungan
milis
online bible
uji anda
proyek
linkaran advent
album foto
about
staff only

active topics (0)
new articles (0)
private messages
my bookmarks
site statistics
pm pager
member benefits
members
search
register

Username:
Password:
Save Password

Lupa password?

registered members: 1626
active users:
0 members
8 guests
Renungan Hari Ini | Renungan Lampau | Para Penerjemah
Renungan Tanggal 8/12/2002

Salam dalam Kasih Kristus,

Satu Gereja tertentu di seluruh dunia menggunakan 3 bulan ini (Juli, Agustus, September) bergumul dengan satu pertanyaan yang besar: Mengapa, O Mengapa, Israel zaman dahulu gagal dengan begitu menyedihkan? Mereka adalah umat Tuhan yang benar! Gereja yang benar pada zaman itu! Keturunan sesungguhnya dan pewaris dari janji-janji Allah yang mengagumkan pada Abraham melalui keturunannya yang banyak, "olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kej 12:2,3)! Tetapi sebaliknyalah yang terjadi!
Raja-raja Yehuda (lupakan Yerobeam, Israel gagal total!), jatuh sampai tingkat yang paling rendah dalam sejarah nasional yang paling memalukan yang bisa dilihat. Mereka melakukan lebih buruk daripada bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka. Kelihatannya bahkan udara yang dihirup oleh rakyat di Yerusalem mengandung racun kemurtadan dan pemberontakan melawan Allah. Satu minoritas yang kecil kadang-kadang mendemonstrasikan iman kepada Tuhan (Yosafat, contohnya, 2 Taw 20), dan Hizkia (bahkan dia pun jatuh, karena dia menunjuk putra mahkota yang dinyatakan oleh Yeremia sebagai penyebab satu-satunya dari kehancuran keseluruhan kerajaan itu (15:4). Dan Raja Yosia yang malang yang berpikir dia melakukan segala sesuatunya dengan tepat benar tetapi berakhir menolak demonstrasi yang hidup dari Karunia Nubuat (2 Taw 35). Mengapa, oh mengapa, umat Allah yang benar sebagai satu bangsa gagal secara begitu menyedihkan? Berulang-ulang!
Akal sehat yang biasa menyatakan, "mereka tidak menurut." Dan benarlah, mereka tidak menurut. Tetapi mengapa, oh mengapa, mereka tidak menurut, dalam setiap generasi berturut-turut, sampai akhirnya mereka menyalibkan Mesias mereka? Dan mengapa kita tidak menurut di setiap generasi berturut-turut dan tetap dalam keadaan suam-suam kuku dan duniawi seperti bapa-bapa kita? Dapatkah kita mengambil pelajaran dan mengakhiri siklus ini?
Akal sehat yang biasa menyatakan, Cukup berhentilah tidak menurut, titik. Sangat sederhana. Ambillah versi "kebenaran oleh iman" yang baru dari legalisme yang lebih ketat. Jangan melunak, tinggikan standar.
Di seluruh dunia, banyak yang mulai berdoa dengan sungguh-sungguh, dengan kesadaran diri. Mari kita bergabung dengan mereka.

Dari Dial Daily Bread 7 Agustus 2002
Oleh Robert J. Wieland
Diterjemahkan oleh Danny Handoko


 

Set as your default homepage Add favorite Privacy Report Bugs 1998-2007 SEIMAN.org All Rights Reserved. MaxWebPortal Snitz Forums Go To Top Of Page