home
my seiman
bulletin
web forum
discover
bible info
ss cq
renungan
milis
online bible
uji anda
proyek
linkaran advent
album foto
about
staff only

active topics (0)
new articles (0)
private messages
my bookmarks
site statistics
pm pager
member benefits
members
search
register

Username:
Password:
Save Password

Lupa password?

registered members: 1626
active users:
0 members
5 guests
Renungan Hari Ini | Renungan Lampau | Para Penerjemah
Renungan Tanggal 4/29/2003

Salam dalam Kasih Kristus,

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa Yesus meminta Yohanes untuk membaptiskan Dia? Tidakkah Dia tidak berdosa? Tidakkah Yohanes diutus untuk membaptiskan hanya orang-orang yang telah bertobat? (Mat 3:11). Mengapa ada perkecualian ini?

Benar--Yesus sama sekali tidak berdosa.
Benar--Yohanes diutus hanya untuk membaptiskan orang-orang berdosa, dan kemudian hanya bila mereka bertobat (pendeta-pendeta tidak memiliki hak untuk membaptiskan orang-orang yang tidak bertobat!)
Ketika Yesus meminta Yohanes, dia "mencegah Dia" karena dia tahu Dia tidak berdosa (ayat 13, 14). Lebih masuk akal bila Engkau yang membaptiskan aku, kata Yohanes.
Seperti dituliskan oleh Matius, Yesus memberikan Yohanes satu pelajaran Alkitab, luas, dan mendalam. Dia menjelaskan bagaimana Bapa telah mengutus Dia untuk menjadi Anak Domba Allah. Seperti orang-orang berdosa di kaabah meletakkan tangan mereka ke atas kepala domba yang tidak berdosa dan memindahkan kepadanya dosa-dosa mereka, demikian juga Yesus mengambil ke atas diri-Nya sendiri semua dosa dari seluruh dunia, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita" (2 Kor 5:21), "menjadi kutuk karena kita" (Gal 3:13). Dia menempatkan diri-Nya sendiri di tempat setiap orang berdosa, mengambil rasa bersalah mereka ke atas hati-Nya sendiri. (bukanlah paku di tangan dan kaki-Nya yang membunuh Dia).
Menanggung beban ini, Yesus mengalami pertobatan untuk setiap orang berdosa. Tanpa ikut berpartisipasi dalam dosa kita, Dia merasakan perasaan semua orang berdosa. Dia berdoa bagi ktia semua, "Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Begitu mengerikan beban dosa kita itu sehingga Dia hampir tidak merasakan penderitaan fisik penyaliban. Seruan keputusasaan itu bukanlah naskah aktor TV: "Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Kematian yang dialami Yesus sama dengan kematian kedua kita (baca Mazmur 22). Dia tidak pergi tidur "tiga hari tiga malam," Kristus telah MATI karena dosa-dosa kita" (1 Kor 15:3, 4), dibangkitkan dari KEMATIAN, bukan hanya dari tidur, pergi ke neraka itu sendiri untuk menyelamatkan kita dari nerakan itu sendiri (Kis 2:27).
Semua ini Yesus harus jelaskan kepada Yohanes, sampai nabi itu sendiri dapat melihat di dalam Dia "Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia" (seperti yang dikatakannya keesokan harinya, Yoh 1:29).
Pertobatan yang dialami Yesus untk kita bukan untuk pribadi, karena Dia tidak memiliki dosa dari diri-Nya sendiri. Itu tentulah pertobatan jemaat. Sementara kita bertumbuh lebih dekat kepada-Nya, kita mengidentifikasikan diri dengan-Nya. Kita belajar bahwa kita tidak memiliki kebenaran sebagai warisan melalui DNA kita; dosa-dosa orang lain akan menjadi dosa-dosa kita--kalau tidak karena kasih karunia dari seorang Juruselamat, dan kemudian kita dapat mengampuni orang lain sebagaimana kita telah diampuni oleh-Nya. Kita akan menjadi seperti Dia--mengalami pertobatan jemaat.

Dari Dial Daily Bread 15 April 2003
Oleh Robert J. Wieland
Diterjemahkan oleh Danny Handoko


 

Set as your default homepage Add favorite Privacy Report Bugs 1998-2007 SEIMAN.org All Rights Reserved. MaxWebPortal Snitz Forums Go To Top Of Page