home
my seiman
bulletin
web forum
discover
bible info
ss cq
renungan
milis
online bible
uji anda
proyek
linkaran advent
album foto
about
staff only

active topics (0)
new articles (0)
private messages
my bookmarks
site statistics
pm pager
member benefits
members
search
register

Username:
Password:
Save Password

Lupa password?

registered members: 1626
active users:
0 members
6 guests
Renungan Hari Ini | Renungan Lampau | Para Penerjemah
Renungan Tanggal 6/26/2003

Salam dalam Kasih Kristus,

Berapa dekatkah Anak Allah datang kepada kita dalam kemanusiaan kita? Para pembaca Alkitab pada umumnya selama berabad-abad telah mengenali Mazmur 119 sebagai wahyu nubuatan tentang seruan hati Yesus dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia. Daud menuliskannya, seperti dia menuliskan Mazmur 22 dan 69, tetapi dia sedang "meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam [dia], yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus" (1 Pet 1:11). Kita menemukan di sana satu wahyu tentang pergumulan Kristus sebagai manusia dengan segala pencobaan dan "penderitaan" "sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa" (Ibr 4:15).

Bacalah mereka, dan percayalah sementara membacanya, dan Anda akan sangat dihibur dan dikuatkan. Anda akan mendapati berkali-kali Dia mengatakan hal-hal yang hati Anda telah coba katakan dari lubuk hati yang paling dalam tetapi Anda terlalu ragu atau malu untuk mengatakannya. Yesus berani mendoakan doa yang Anda harap Anda berani mendoakannya! Contohnya:
Dia mengatakan kepada Bapa kita di sorga, "Aku ini kecil dan hina" (Maz 119:141). Ya! Tetapi jangan lupa kelanjutannya, masih dalam satu tarikan nafas: "tetapi titah-titah-Mu tidak kulupakan." Jadi, jangan Anda "melupakan". Di sinilah ketegangan yang Yesus rasakan dalam jiwa-Nya sendiri, seperti Anda tahu--di satu saat merasakan ketidakberdayaan Anda, saat berikutnya ingat bahwa Anda telah diadopsi ke dalam keluarga Bapa.
Yesus menerima disiplin dari Bapa-Nya: "Aku tahu, ya TUHAN, …bahwa Engkau telah menindas aku dalam kesetiaan" (ayat 75). Bahkan Dia baru siap untuk pelayanan-Nya pada usia 30 tahun!
Bukannya memanjakan kebencian terhadap mereka yang "berlaku bengkok" terhadap Dia, Dia mengalihkan perhatian-Nya kepada kebenaran Alkitab: "aku akan merenungkan titah-titah-Mu" (ayat 78). Demikian pula Anda seharusnya.
Dia cukup manusia untuk tahu apa artinya merindukan pembalasan terhadap mereka yang memperlakukan Dia tidak adil. "Bilakah Engkau menghukum orang-orang yang mengejar aku?" (ayat 84). Pernahkah Anda memperhatikan kerinduan yang dalam dari seorang anak untuk keadilan?
Enam belas kali Yesus berdoa "hidupkanlah Aku," atau, "buatlah Aku hidup kembali." Sebelum Kebangkitan-Nya yang Besar dalam "hari ketiga," Dia telah berlatih untuk "dibangkitkan" berulang kali. Itu bukanlah satu ekspresi main-main bagi-Nya, "Aku hampir mati!" Dia tahu bagaimana rasanya trauma yang menghentikan detak jantung: "Hampir saja mereka menghabisi aku di bumi," Dia mengeluh; itulah saat-Nya ketika Dia berdoa untuk dihidupkan kembali (ayat 87, 88). Ya, Dia telah datang sangat dekat kepada kita.

Dari Dial Daily Bread 24 Juni 2003
Oleh Robert J. Wieland
Diterjemahkan oleh Danny Handoko


 

Set as your default homepage Add favorite Privacy Report Bugs 1998-2007 SEIMAN.org All Rights Reserved. MaxWebPortal Snitz Forums Go To Top Of Page